28 September 2006

The Road To Guantanamo

The Road to Guantanamo

Bagi orang awam, membaca judul di atas akan memunculkan pertanyaan di manakah Guantanamo? Dengan membuka peta, jawaban itu segera ditemukan. Guantanamo adalah sebuah kamp instalasi militer Amerika Serikat di Kuba. Walau Amerika adalah musuh utamanya, Pemerintah Kuba tak bisa berkutik dengan keberadaan instalasi militer itu karena terikat perjanjian sewa wilayah dengan Amerika puluhan tahun lalu. Eit, tulisan ini bukan hendak membeber soal hubungan Amerika Serikat dan Kuba. Saya justru hendak membedah tentang Guantanamo-Guantanamo di Indonesia. Kok?

23 September 2006

Kantong Mataku Berat

Memasuki bulan Ramadan adalah mengingat haru. Haru karena mengingat kepedihan, kekecewaan dan ketidakberdayaan yang terlambat. Bulan Ramadan adalah bulan haru. Bulan ketika emosi dan nalar kita diaduk-aduk oleh nurani yang sekalian lama dikucilkan. Ego yang sudah telanjur arogan tiba-tiba saja harus tunduk pada panggilan hati. Mengingat semuanya adalah mengenang haru biru, mengenang kekalahan-kekalahan sekaligus mengharap kemenangan.

20 September 2006

Ikhlas

Namanya Pak Rohman. Tubuhnya tinggi besar dan agak gemuk. Usianya sekitar 35 tahun. Masih muda dan segar. Wajahnya bersih, sikapnya bersahaja dan ramah kepada orang yang baru dikenal. Di tempat tinggalnya, ia disegani oleh warga. Pak Rohman adalah kepala sekolah sekaligus penanggung jawab ponpes Agrikultur Kadugede, Kecamatan Penanggaran, Lebak.

Rumah yang ditinggali bersama istri dan anak-anaknya terbilang sederhana. Tak ada perabotan mewah. Bahkan televisi pun rusak dan sudah lama tak pernah ditonton. Namun soal menghargai tamu, hotel berbintang lima manapun di Jakarta pasti kalah.

Ya, keluarga pak Rohman sangat menghargai tamu-tamunya. Walau cuma menginap semalam bersama dua rekan dari JIMS (jakarta international moslem society), tak ada wajah kecut, senyum sinis, muka masam ketika menyambut kami. Inilah hospitality yang benar-benar tulus dan ikhlas yang tidak dimiliki oleh para pegawai hotel berbintang yang sering kali senyum dan tingkah lakunya artifisial alias dibuat-buat.
Ketika datang sore itu, kita segera disuguhi segelas air putih. Lantas setelah berbincang sebentar dan menunaikan solat magrib, hidangan makan malam disajikan di atas tikar. Menunya sambal kecap, enceng gondok rebus, irisan mentimun dan ikan asin. Toh, kami tetap lahap karena hidangan itu sangat lezat di lidah. belum usai, kita disuguhi buah mangga yang masih setengah matang yang disandingkan dengan garam dan sambal cabe.

Paginya sekitar pukul 06.30, piring-piring berisi nasi goreng sudah menunggu. Kepada Pak Imam, kawan dari JIMS, saya berujar begini," Saya merasa tak enak Pak. Saya ngga ngapa-ngapain tapi disuruh makan terus. Dengan enteng dia menjawab," Memang begini kalau turun ke lapangan. Ini rezeki. Jangan ditolak."
Ikhlas. Itulah sikap yang ditunjukkan pak Rohman dan keluarganya. Tak ada harapan untuk mendapat imbalan atau ingin dipuji. Tulus. Apalagi menilik pengabdiannya beberapa tahun ke belakang, sungguh ketegaran pak Rohman patut ditiru.

"Dulu di depan situ belum ada apa-apa. Depan situ masih hutan jati. sekarang mah udah banyak warganya. Dulu sepi sekali,' tandanya bercerita tentang awal pengabdiannya enam tahun lalu. saat itu, kata dia, ponpes dan sekolahnya adalah yang pertama di daerahnya. maklumlah, tempatnya relatif susah dijangkau. Tak ada kendaraan umum kecuali ojek. itupun harus melewati jalanan yang naik turun dengan kondisi jalan boleh dikategorikan track off road. Bahkan beberapa kali kendaraan jip yang kami tumpangi mogok karena beratnya medan. memang jarak desa ini ke Malingping, sebuah kota kecamatan di pesisir pantai selatan Jawa tak terlalu jauh. Sekitar 15 km. dari jalan utama masih harus ditempuh jarak 4 km ke pedalaman. Jangan sangka jarak 4 km itu dekat. Walau secara geografis dekat, namun kondisi jalan yang "ya ampuuun" karena sangat terjal, berbatu, dan berliku, membuat perjalanan yang semestinya bisa ditempuh dalam 10 menit itu menjadi sekitar 45 menit!!!!

Hebatnya lagi, para santri, guru pengajar, tinggal di dekat pesantren. mereka lebih suka tinggal di sana karena keinginan untuk mengabdi, bukan sekadar mencari kekayaan belaka.(*)