Cukupkah tiga kali pertemuan untuk menilai seseorang? Tentu saja tidak cukup. Bahkan pasangan yang sudah menikah puluhan tahun pun sering tidak bisa memahami perilaku istri atau suaminya. Apalagi buat yang baru ketemu tiga kali?
Tapi walau cuma bersua beberapa kali, toh ada kesan yang ditinggal. Kesan ini pula yang coba saya tulis di sini dari seorang Hening Dian Paramita. Bisa jadi banyak yang keliru, bisa jadi ada pula yang benar. Dari kodratnya, manusia kan memang sudah membawa persepsi bawah sadar tertentu yang dibentuk dari lingkungan, pengalaman, latar belakang pendidikan, agama dan sebagainya. Misalnya begini, orang yang pakai baju seenaknya, rambut gondrong, celana belel, jambang tak dicukur, langsung dicerna oleh otak bawah sadar pasti orang tersebut gelandangan. Padahal sebenarnya saya mau ngomong tentang sosok penyanyi Iwan Fals. Eh…kok ngelantur.
Nah begitu pula waktu diminta mengisi testimonial buat Mita, terus terang saya ragu. Saya langsung tanya ke dia. ”Mau yang jujur apa bohong,” kata saya. Kalau yang terakhir tak perlu dibahas lagi, tapi yang jujur?….Itu kan persepsi pribadi yang belum tentu benar. Tiga kali bertemu, apa cukup buat menilai seseorang?
Yang paling gampang sih menilai dari segi penampilan fisiknya. Kalau liat di foto-fotonya di website, dia tuh terkesan anggun dan cewek banget. Tapi nyatanya belum pernah satupun saya lihat dia tampil memakai rok atau kebaya. Gayanya justru terkesan tomboi dan sedikit cuek. Celana jins dipadu kaos, sepatu kets dan selalu membawa tas back pack kecil. Pernah sekali lihat dia pakai jaket jins biru. Rambut dibiarkan tergerai dan kadang dijepit dengan penjepit rambut. Make up? Kalaupun pakai make up paling juga sapuan tipis tanpa lipstik. Cuma sekali itu saja saya lihat dia memakai make up yang serius saat kita pertama bertemu....Cueknya lagi, pergelangan tangan kirinya bukan dilingkari arloji atau gelang tapi rantai kamprat sepeda motor yang sudah disepuh warna perak.....
Terakhir kita ketemu, penampilannya lebih cuek lagi. Air mukanya agak sembab, mirip orang habis menangis atau bangun tidur. Di kedua daun telinganya terselip earphone yang kabelnya menyambung ke MP3 player yang digantungkan di balik kaos yang dibiarkan tak dimasukkan ke celana. Kesannya kaos itu kedodoran.
Cueknya lagi, pergelangan tangan kirinya bukan dilingkari arloji atau gelang tapi rantai kamprat sepeda motor yang sudah disepuh warna perak. Rantai seperti ini biasanya dipakai sebagai penggerak gir mesin sepeda motor dan letaknya di dalam blok mesin, yang hanya bisa dilihat kalau mesin dibongkar. Tak sedikitpun orang bakal mengira kalau sosok ini adalah seorang guru yang tampil anggun bila mengajar di depan kelas.
Walau begitu, gurat-gurat kecantikan wajah tetap saja terlihat. Memang sih, ada sisa-sisa kulit kering di pipi kanannya bekas terapi couter untuk membersihkan komedo. Barangkali kalau dia memakai bedak, bekas terapi itu tak bakalan kelihatan.
Toh, kendati dibungkus penampilan cuek seenaknya, sosoknya tetaplah seorang wanita ayu yang mengundang mata siapa saja untuk melirik. Dagunya lancip, bulu matanya lentik, dan kulitnya putih. Sinar matanya yang mirip gemintang yang berkerlip kalau sedang tersenyum plus bentuk bola matanya yang bulat meneguhkan kecantikan khas wanita melayu yang punya karakter bawaan sebagai sosok pemalu. Wanita seperti ini konon tak terbiasa mengungkapkan isi hatinya secara terbuka kecuali lewat perlambang atau simbol tertentu.
Tetapi semua kesan lahiriah itu bakal musnah ketika perbincangan dimulai. Pemikirannya dalam, wawasannya luas, dan perhatian terhadap lawan bicara mengesankan dia sangat tertarik berbincang dengan kita. Walau kadang-kadang terkesan dia terpaksa menanggapi obrolan kita padahal tak tertarik dengan materi pembicaraan. Ditambah lagi nada suaranya yang merdu dan sikapnya yang ramah, sosoknya berubah dari kesan wanita melayu pemalu menjadi cewek kosmopolitan namun tetap berpijak di ranah nilai-nilai ketimuran.

Sederet prestasi dan pemikirannya yang dituangkan lewat blog makin menguatkan citra dia sebagai wanita timur smart, pintar dan sopan. Mungkin dia terinsipirasi semboyan kontes putri Indonesia yaitu Beauty, Brain, Behaviaour (B3). Tapi saya sendiri tak pernah menanyakan soal itu ke dia, dan tidak ingin menanyakannya.
Tulisannya (termasuk puisi) juga bukan curhat-curhat cengeng khas sinetron remaja, tapi berkelana dari soal filsafat, ketuhanan, pengembaraan religiusitas (kadang-kadang sufistik), apresiasi musik, kritik sosial, bahasa, pendidikan sampai masalah nasionalisme. Pilihan katanya pun cerdas dan sarat makna. Dia bisa menangkap fenomena kasat mata di luar dirinya dan menerjemahkan dalam barisan kata-kata. Kalau mengupas soal cinta dan romantisme, Mita bisa mengungkapkan lewat bahasa yang indah dan penuh makna. Contohnya di puisi ini berjudul Sajak Petang berikut.
gerimis merapat pada pos ronda
tempat kita berteduh
dan waktu menjadi kamera yang merekam
dua wajah lugu yang berseri-seri
tanah gersang yang lapang dan sunyi mendadak
girang karena
tangan tuan hujan mengait mesra tangan nona bumi
sepanjang petang
tempat kita berteduh
dan waktu menjadi kamera yang merekam
dua wajah lugu yang berseri-seri
tanah gersang yang lapang dan sunyi mendadak
girang karena
tangan tuan hujan mengait mesra tangan nona bumi
sepanjang petang
Jujur saya katakan, sosok Mita adalah luar biasa. Jarang saya bisa bertemu wanita seperti dia. Tapi tak jujur juga kalau saya hanya mengungkap kelebihannya. Sebagai manusia biasa, dia juga tak luput dari kekurangan. Salah satunya, menurut saya (bisa jadi menurut orang lain adalah kelebihan), adalah sifatnya yang pemalu dan kurang terbuka mengutarakan maksud hati dan pikirannya. Saya kadang menilai dia asyik hidup dalam dunia sendiri walaupun tampak jelas dari pikirannya untuk keluar ke arena hidup nyata dan mendobrak keterkungkungan suasana yang mengurungnya.
Toh ini hanya penilaian pribadi saya atau salah persepsi akibat kesan bawah sadar di otak saya yang telanjur ada. Saya hanya berusaha sejujurnya meski saya sadar toh kata-kata tak cukup mewakili semuanya.
Akhirnya Mita, kamu perlu terus belajar dan berusaha. Jadilah warna bagi sekelilingmu agar tak hanya ada hitam, putih dan abu-abu saja. Yakinlah kamu bisa (*)
*) ini adalah testimoni friendster seorang kawan bernama Sun Yi.

0 komentar:
Poskan Komentar