07 Juli 2006

Menjelajah Banten


Baru tiga hari di Serang, aku merasakan ada darah segar mengalir dalam tubuh. Darah ini membuat perasaan lebih enteng, fresh, otak ladi lebih mudah berpikir, ide-ide gampang muncul, dan semangat kerja menyala-nyala. Ada apa? Yang jelas, bukan karena aku jatuh cinta sama perempuan atau mendapat durian runtuh berupa rezeki nomplok. Ada perasaan bergelora untuk mengaktualisasikan diri lebih dari yang sudah aku perbuat sebelumnya.

Aku melihat ada peluang yang mengasyikan sekaligus menjanjikan di sini. Ya di Banten, provinsi yang baru berumur 6 tahun ini rupanya membangkitkan ide-ide segar yang selama ini cuma tersimpan dan tidak tersalur karena keadaan tak memungkinkan.


....ide ini muncul setelah membaca pengalaman Kevin Sites yang dipublikasikan dalam HotZone-nya Yahoo....


Salah satu yang paling gress adalah keinginan untuk menjelajahi semua objek wisata di Banten dan situs-situs bersejarah. Ada keinginan untuk mengekplorasi kemampuan jurnalistik dan petualangan dalam satu paket. Aku juga pengen mengumpulkan cerita dan pengalaman mumpung kesempatannya ada. Ya di sinilah di Banten ini kesempatan itu datang. Waktu di Jakarta atau Tangerang, kesempatan itu rasanya masih jauh. Tapi melihat Serang dan Banten, aku yakin inilah kesempatan itu.

Sebetulnya ide ini bukan orisinil. Dia muncul setelah membaca pengalaman Kevin Sites yang dipublikasikan dalam HotZone-nya Yahoo dan tulisan tentang perjalanan Marcopolo pada abad ke 13 yang dimuat majalah National Geographic Edisi tahun 2001 yang aku beli di Statiun UI Depok. Ketika tiba di Serang dan menginap di kontrakan Ginanjar dan Hermansah yang berada di Cipocok Jaya, Serang, aku melihat buku karya Sigit Susanto berjudul Menyusuri Lorong-Lorong Dunia. Buku ini sangat menarik karena bercerita tentang pengalama Sigit melancong ke berbagai negara di dunia. Dia tak cuma bercerita tentang tempat yang disinggahi tapi orang-orang yang ditemui, kisah di balik lokasi hingga pengalaman pribadinya bertemu dengan budaya dan kebiasaan yang tak wajar dalam kacamata orang Indonesia. Untuk meniru mereka, rasanya masih sangat jauh. Butuh waktu khusus, biaya besar dan yang pasti, aat ini hal itu belum menjadi prioritas ku.

Dalam bayangku, menjelajah provinsi Banten tak harus seperti yang dilakukan Kevin, Sigit atau Marcopolo. Pekerjaanku tak terganggu karena bisa aku lakukan setiap akhir pekan atau saat libur. Kala itulah aku ingin mengunjungi satu objek wisata di Banten entah apa nama tempatnya, kemudian melakukan reportase plus pengambilan foto. Hasil tulisan ini aku muat di surat kabar tempatku bekerja dan diabadikan dalam weblog pribadiku. Aku akan kirimkan surat elektronik kepada kawan-kawan untuk bisa membaca pengalamanku. Aku berharap, tulisan-tulisan itu bisa menjadi dokumentasi pribadi sekaligus inspirasi bagi yang membacanya.


Kapan itu dimulai? Aku ingin secepatnya.

Looking for more article? Jump to desktop version in http://snsdotcom.blogspot.com

0 komentar: