the WorD Is NoT EnougH

18 February 2007

Sahabat

Tidak seperti biasanya, Vera merasa tak betah di kantor. Sejak pagi hingga siang ini, semangat kerjanya lunglai. Otaknya berbisik mengajak segera pulang ke rumah atau keluar nongkrong di kafe di mal dekat kantornya. Tak ada aktivitas penting yang dia lakukan. Berkas-berkas proposal yang butuh approval dari atasannya, dibiarkan menumpuk di atas meja. Kebetulan sang bos yang konsultan manajemen, tak datang karena sedang mengikuti seminar di luar kota. Vera bisa sedikit bernafas lega.

Masih dengan muka masam, Vera mencoba mengurangi rasa bete-nya sambil memainkan jemarinya di atas keyboard komputer. Chatting adalah favoritnya, meski harus dilakukan sembunyi-sembunyi bila sedang tak ada bos.

gue bingung harus gimana. Gue pengen datang tapi juga males ketemu mereka,” tulis Vera di jendela Yahoo Messenger.

kata-kata berwarna pink muncul dengan ukuran huruf yang lebih besar dalam foto Arial. Di depannya tertulis identitas si pengirim : Sarah.

”Lu boleh engga datang, tapi gue saranin elu nongol di sana. Daripada elu nyesel seumur hidup,”

Sarah adalah sahabat yang dikenalnya sejak bekerja di kantor ini. Mereka kerap bertemu di lift saat berangkat, istirahat atau pun pulang kerja. Walau berbeda lantai dan beda perusahaan, Sarah adalah orang pertama yang membuat Vera merasa nyaman di gedung perkantoran 18 lantai di Jakarta Selatan itu.

”Iya sih. Tapi gue kan juga malu,” kembali Vera menulis.

”Don't be sad, bu. Be strong, ok? Masih ada waktu kok, pikir-pikir aja dulu,” kembali Sarah memberi saran. Tak lupa Sarah mengirim icon smiley bulat berwarna kuning dengan orang tersenyum di belakang pesan itu.



”Ok deh. Gue pikirin dulu. Masih ada dua minggu kok. Thank ya Sar. Ntar dilanjutin ya, ada kerjaan nih”.



Usai menekan tombol SENT, Vera segera mengubah statusnya menjadi offline dan menutup jendela Yahoo Messenger.



##



Semuanya berawal sehari sebelumnya. Saat naik angkot dalam perjalanan pulang dari kantor, Vera merasakan ponsel di dalam tasnya bergetar. Sebuah pesan pendek masuk. Senyumnya langsung merekah. Rupanya si pengirim adalah Martha, teman kuliahnya saat masih sama-sama menimba ilmu di Jogjakarta, setahun lalu.



”Udah nyampe rumah belum, bu? Ada yang pengen aku omongin”. Vera sudah hapal gaya sapaan Martha. Selain relasinya, hanya Martha yang memanggilnya dengan sebutan Ibu. Konon sapaan itu diucapkan karena kala dirinya jadian dengan Mas Handoko, mantan kekasihnya, yang juga dipanggil Pak teman-temannya di kampus. Ah….Mas Handoko…..bagaimana kabarnya dia? Sejak putus, Vera hanya tiga kali mereka bertegur sapa dengan Mas Han. Itupun cuma basa-basi lewat SMS yaitu saat tahun baru, saat dia berulang tahun, terakhir saat Lebaran lalu. / />”Kemana aja bu. Kok ga pernah ngasih kabar. Gue masih di angkot?” balas Vera sambil memberi tanda J di akhir pesannya.



”Entar aja deh kalau udah nyampe rumah, aku telepon ya. Jangan tidur dulu ya,”

”Oke”. Vera kembali memasukkan ponsel ke dalam tas.



Tiba di rumah, Vera bergegas ke kamar, mandi, sholat, dan makan malam. Saat itulah ponselnya bergetar. Nama Martha kembali muncul di monitor, mengajaknya berbicara. Sahabatnya itu benar-benar menepati janji.

”Hei, apaan sih. Kayaknya serius banget,” Vera langsung memberondong pertanyaan lewat ponselnya.

”Ver, kamu harus sabar ya. Ada kabar penting. Mas Han dua minggu lagi married, kamu diundang”



Hah....Mas Han menikah? Sungguh? Sejenak Vera terdiam. Dia menahan perasaan yang berkecambuk. Kendati sudah putus, Vera tetap saja kaget. Hati kecilnya menolak berita itu. Secepat inikah Mas Han mendahuluinya? Bahkan kala ruang hatinya masih kosong dan belum mendapat pengisi sejak ditinggal Handoko?



”Ver…Vera, kamu masih di situ kan ….”

”Dapat orang mana dia?” Kali ini Vera sudah bisa mengusai diri. Dia mencoba tegar.

”Sebenarnya aku engga tega ngomongnya, Ver. Calonnya teman kita kok. Si Santi….”. Martha tak meneruskan kalimatnya.



Beberapa saat mereka tak bersuara. Ada keheningan aneh di ujung-ujung saluran telepon itu. Jantung Vera berdetak kencang. Ada yang ingin diungkapkannya, tapi tenggorokannya seperti tersumbat. Hatinya berkecambuk. Hanya tarikan nafas dan bunyi sesenggukan yang sengaja ditahan yang sampai ke telinga Martha.



Santi bukan orang lain bagi Vera. Malah Santi adalah orang yang dulu menjadi mak comblang kala Mas Han-nama panggilan Handoko-mendekati Vera. Kepada Santi-lah, Vera curhat tentang Handoko. Vera menumpahkan perasaannya, kegembiraannya, kekesalannya, kecemburuannya, dan kesedihannya kepada Santi. Malah saat hubungan Handoko dan Vera bubar, Santi-lah yang pertama didatangi Vera.



”Ver….kamu harus tabah ya. Kalau kamu mau datang, nanti aku temenin. Resepsinya di Bandung. Aku juga diundang kok. Mungkin Mas Handoko dan Santi engga enak ngomong langsung ke kamu, makanya dia minta aku yang ngomong. Undanganmu masih aku bawa,”. Suara Martha menyadarkan lamunan Vera.

Saat itu, Vera merasa tenggorokannya terasa serak. Kelopak matanya basah. Dia segera mengambil tisu dari meja, meletakkan sendok, bangkit dari kursi, dan berlari ke kamarnya. Mama yang memperhatikan polah anak semata wayangnya itu, mencoba menyusul. Namun langkahnya tertahan pintu yang dikunci si empunya kamar.



”Ada apa Ver…kamu menangis?” tanya sang mama dari balik pintu.

”Ga ada apa-apa Ma,”

Untuk sesaat suara mamanya tak lagi dihiraukan.



”Ver….kalau kamu engga datang, aku maklum kok…” suara Martha kembali terdengar dari ponsel.

”Entahlah….gue engga tahu gue siap apa engga. Gue tahu ini berat, tapi gue bukan apa-apanya Mas Han lagi. Mereka berhak bahagia. Iya kan Tha?”.

”Ya sudah…yang tabah ya Ver. Jangan merasa sendiri, aku siap kok kapan saja kamu mau ngobrol,” Martha mencoba menghibur.

”Terima kasih Tha. Gue ga papa kok. Thanks,”

”Oke deh. Udahan dulu ya. Aku dipanggil mama,”. Sambungan pun terputus. Vera masih sempat mendengar bunyi tut..tut..tut dari ponselnya.



Sambil rebahan dan memeluk bantal dengan tangan kiri, Vera memainkan tombol jogdial, membuka phonebook dan berhenti pada nama Santi. Sejenak terlintas pikiran untuk memencet tombol dan berbicara dengan sahabatnya itu.

Tapi hati Vera bimbang. Mau ngomong apa? Memberi selamat? Bagaimana kalau dirinya justru tak bisa mengontrol emosi dan menuding Santi munafik dan memanfaatkan situasi? Bagaimana kalau justru dirinya ditertawakan atau dianggap kekanak-kanakan karena ternyata Santi bisa menerima kekurangan Mas Han, bahkan mereka kini mau menikah? / mungkin, Santi tak bakal bersikap seperti itu. Sisi malaikat Vera menolak bisikan sesat tersebut. Atau jangan-jangan Santi hamil sehingga Mas Han tak bisa mengelak dari tanggung jawab? Lagi-lagi bisikan sesat masuk ke otaknya.

Vera kembali termenung. Dia bimbang. Lantas, secepat kilat, dia mengambil keputusan : menekan tombol Cancel berwarna merah hingga 5 detik. Ponsel pun turn off. Vera lega

/ mama tahu kamu nangis. Ayo cerita ke mama”. Rupanya mama, sosok wanita yang paling dicintainya, belum beranjak dari balik pintu.

”Engga ada apa-apa Ma, Vera cuma pengen sendirian dulu. Vera pengen tiduran”. Untuk sementara, sang mama lega. Dia sangat mengenal sifat putri semata wayangnya itu dan harus menunggu waktu yang tepat untuk berbicara dengan satu-satunya anak perempuan di keluarga ini. Perempuan tua ini pun beranjak. Kembali ke dapur.



Di dalam kamar, Vera masih menerawang. Bayang-bayang masa lalu yang sempat bisa dia lupakan, kini muncul lagi. Bahkan dalam bentuk yang tidak pernah terpikir sebelumnya. Mas Han dan Santi menikah….? Kenapa Mas Han? Kenapa Santi?



Sambil mengingat-ingat masa lalu, tangan kirinya meraih remote control pemutar CD dari atas meja rias. Jempolnya menekan tombol On/Off dan kemudian Play. Kali ini Vera merasa tak sendiri. Jewel yang melantunkan Goodbye Alice in Wonderland, seperti ada di dekatnya. Vera kembali memeluk bantal. Jewel mengajaknya untuk tak melawan perasaannya. Vera ingin menikmati 'kekalahan'. Dia ingin menikmati perasaan itu. Dia ingin bersedih….



###



Tiga tahun lalu, Handoko adalah salah satu cowok yang jadi perhatian gadis-gadis di Fakultas Ekonomi di kampusnya. Namanya cukup popular di telinga penghuni kampus.. Vera semula tak begitu menghiraukan Handoko, kakak kelasnya satu tingkat lebih tinggi. Dalam pandangannya, Handoko-yang juga aktivis kampus--tak lebih dari seorang buaya darat yang pintar memanfaatkan ketampanan wajahnya untuk menggaet cewek-cewek kampus.



”Hei, aku dapat nomormu dari Santi. Salam kenal. Ini nomorku,” sebuah pesan pendek dari Handoko tiba-tiba sudah masuk ke dalam ponsel Vera. Itulah awal perkenalan mereka. SMS pun berbalas. Perkenalan via ponsel itu lambat-laun menjadi saling saling kirim salam dan obrolan-obrolan ringan di kafe kampus. Namun Vera tak pernah menanggapi serius, hingga suatu hari Santi memberitahunya kalau Handoko mengaku naksir ke Vera.

”Jangan disia-siakan Ver, jarang ada cowok seganteng dia di kampus kita lho,” kata Santi saat itu.



Sebulan kemudian, Santi pun tahu sahabatnya yang berwajah melankolis itu sudah kerap mengadakan kencan kecil dengan Handoko. Mereka jadian. Setiap kali ada masalah, Santi menjadi tempat curhat Vera. Sesekali Martha mengganti posisi Santi bila dia sedang sibuk dengan kegiatan organisasinya. Handoko pun memanfaatkan kedekatan Santi untuk membujuk kekasihnya itu kalau sedang ngambek.



Usai KKN, Vera kembali bertemu Santi. Saat itu Santi melihat raut muka Vera paling kusut dari yang pernah dilihatnya. Santi sudah menduga, Vera akan curhat tentang Handoko. Tentang cinta. Tentang kekecewaan. Juga tentang ketidakpercayaan.



”Mas Han sekarang aneh San. Dia engga mau terbuka lagi” keluhnya saat itu.

Keluhan-keluhan itu terus berlanjut. Malah makin sering. Setiap kali Vera bertemu Santi, keluh kesah tentang Handoko selalu menjadi topik utama. Kadang-kadang Santi yang merelakan datang menemui Vera mengabarkan jawaban Handoko.



”Gue lihat sendiri dia mesra banget sama Ratih, pake gandengan tangan lah. Bisa-bisanya dia bilang engga ada apa-apa sama Ratih. Gue udah engga tahan San. Gue pengen putus. It's over….” kata Vera lirih. Santi hanya diam mencoba memahami hati sahabatnya itu.



Seminggu kemudian Vera dan Handoko putus. Santi kini tak lagi mendengar curhat-curhat Vera. Di antara dua sahabat ini seperti ada kesepakatan untuk tak membuka luka lama. Handoko nyaris tak pernah menjadi bahan obrolan dalam pembicaraan mereka. Apalagi Vera makin sibuk mengurusi skripsinya, sedangkan Santi tetap seorang aktivis yang jarang nongol di rumah kos. Empat bulan kemudian, Vera diwisuda dan kembali ke Jakarta.

/ ibukota pun, Vera masih menghubungi Santi via SMS, telepon maupun chatting di yahoo messenger. Obrolannya pun beragam dari soal mencari pekerjaan, suasana kantor, kabar teman-teman mereka di kampus dahulu hingga karir Santi yang kini bekerja di sebuah LSM internasional tentang pelestarian lingkungan hidup dan membuka cabang di Jogja. Soal Handoko? Baik Vera maupun Santi tak pernah menyinggungnya. Namun lima bulan terakhir, Santi tak lagi bisa dihubungi. Dia seperti hilang di telan bumi. Dari Martha, Vera mendapat kabar, Santi ikut penelitian di pedalaman Kalimantan.



###

”Tha, gue jadi datang tapi temenin gue ya. Gue nginep di rumah Budhe di Lembang. Temen gue juga mau ikut, namanya Sarah” bunyi pesan pendek Vera ke Martha.

”Gue ingin nunjukkin kalau gue ingin terus bersahabat sama mereka” kembali Vera mengirim SMS.

”Sounds good. Ok, hari Sabtu kita ketemuan di rumah Budhe kamu. Kasih alamatnya ya, sama nomor teleponnya. Aku naik kereta dari sini,” balas Martha.



##

Minggu pagi, tiga gadis dalam rentang tengah usia dua puluhan duduk di bangku belakang taksi di tengah lalu lintas kota Bandung. Tujuannya gedung PGRI, tempat resepsi Santi dan Mas Handoko digelar. Vera tampak paling nervous dibanding Martha maupun Sarah yang mengapitnya.



”Tenang ya Ver. Kamu dandan cantik kok, Mas Han pasti nyesel begitu lihat kamu. Iya engga Sar,” goda Martha. Sarah yang diajak bicara pun menyahut.

”Entar habis dari resepsi, kita jalan-jalan ke Ciwalk. Kita engga mau elu bete abis liat Santi dan Mas Han bersanding” balas Sarah.

”Tapi kalian jangan jauh-jauh ya. Gue gugup” kata Vera cemas. Seperti memberi jawaban, Sarah dan Martha masing-masing meremas tangan Vera, menenangkan kegundahan hati sahabat mereka itu.

”Thanks Tha, Sar. Kalian baik sekali,” lanjut Vera.

”Ga papa kok. Tapi janji ya, jangan malu-maluin di sana,” pinta Sarah.



Taksi terus melaju hingga memasuki halaman gedung resepsi. Ada rangkaian sepasang janur kuning melengkung di sisi kanan dan kiri gerbang masuk. Mobil-mobil undangan sudah berjejer memenuhi sebagian halaman parkir yang luas. Ada hansip yang berjaga-jaga. Tampak hilir mudik tamu yang terus berdatangan mengantri mengisi buku tamu.



Vera, Martha dan Sarah, berjalan perlahan ke meja resepsionis yang dari ditunggui gadis-gadis cantik dengan baju kebaya khas Sunda. Vera tampak ragu-ragu. Langkahnya terhenti.

”Ayo lah…sudah sampai di sini. Masak harus nyesel seumur hidup,” ajak Sarah.

Segera semangatnya bangkit dan kembali berjalan. Di seberang meja resepsionis, foto pre-wedding seukuran poster Mas Han dan Santi menyambut ketiganya. Vera kembali tertegun. Ada rasa ragu untuk memasuki ruang resepsi. Martha tanggap situasi ini. Ia segera mengisi buku tamu atas nama tiga orang dan menyerahkan kado ke resepsionis.



”Kita di belakang aja ya. Gue malu kalau ketemu temen-temen gue,” pinta Vera. Hati Vera kembali teraduk-aduk. Apalagi pengeras suara di ruangan itu melantunkan vokal penyanyi yang mendendangkan lagu-lagu bertema cinta. Ingatannya kembali lagi ke Mas Han, Santi, dan masa-masa kuliah. Belum lagi ada rasa khawatir bila bertemu teman-teman Handoko maupun teman-teman kuliahnya dahulu yang tentu yang akan menggodanya. Beruntung, di ruangan itu, sangat sedikit wajah yang dikenalnya. Mereka hanya menyapa sekadarnya dan seperti tahu diri, tak menyinggung masa lalu Vera dan Handoko.



Di tengah kerumunan itu, Vera bisa mengintip Handoko dan Santi yang sedang sibuk menerima ucapan dari para tamu. Bergantian mereka berfoto bersama mempelai. Hati Vera kembali berkecambuk. Akhirnya dia putuskan untuk tak berlama-lama di tempat itu.



”Ayo kasih ucapan ke pengantinnya. Terus kita pulang,” ajak Vera. Martha dan Sarah saling pandang seolah tak percaya sahabatnya akan begitu pede.



Kurang dari sepuluh meter dari tempat mempelai, Handoko dan Santi melihat sosok Vera. Raut muka keduanya berubah. Begitu pula dengan Santi, yang tak pernah bersiap untuk momen seperti itu.



”Selamat…”tangan Vera menjabat tangan Handoko.

”Terima kasih…”balas Handoko tak berani menatap wajah mantan kekasihnya itu.

Kini giliran Santi yang dihadapinya. Ia ingin memeluk, namun ada keraguan yang menyelimuti dadanya. Dia memilih menahan diri. Vera hanya tersenyum kecil sedangkan Santi tampak pucat dan gugup.

”Selamat San…,”. Santi mengangguk sambil menggenggam tangan sahabatnya. Selain kalimat itu, Vera cuma berbicara lewat raut muka dan tatapan mata yang berkaca-kaca. Santi makin kikuk. Ada banyak yang ingin Vera ungkapan. Namun, lidahnya terasa kaku.

/ bendungan air matanya akan jebol, Vera segera berlalu. Dia tak menghiraukan ajakan fotografer untuk berfoto bersama pengantin dan bergegas keluar. Sementara Martha dan Sarah masih sempat basa-basi dengan pengantin sebelum berpamitan.



/ langsung pulang yuk. Please….” rengek Vera pada Sarah di luar gedung. Martha pun tanggap dan mencegat taksi. Di atas pangkuan sahabat-sahabatnya, Vera menangis sesenggukan.

”Sudahlah Ver, engga usah sedih….,” bujuk Martha.

”Gue engga sedih kok, gue lega…,” jawab Vera sambil menyeka air mata.

Martha dan Sarah tersenyum. Keduanya lantas tertawa. Vera juga tertawa. Sopir taksi yang sudah setengah umur pun ikut tertawa walau ditahan dalam hati.



”Nah, gitu dong. Bikin orang bete aja. Untung elo kagak pingsan di sana kayak di sinetron-sinetron kacangan itu,”. Kali ini Sarah yang banyak bicara.

”Welcome back Vera,” sahut Martha. Vera mengangguk. Dia tersenyum. Dia ingat peristiwa yang baru saja dialaminya. Dia ingat betapa gugupnya dia saat itu. Dia ingat raut muka Mas Han dan Santi yang berubah pucat. Dia ingat….ada satu nama yang urung dihapus dari daftar sahabatnya saat ini : Santi.



Rawabelong, 27 Januari 2007









powered by performancing firefox

10 November 2006

Wajah Tanpa Rupa (2)

Manyun, jutek, bloon, tongos, memble, ternyata menarik juga buat dipajang sebagai karya foto. Ekspresi yang muncul mencerminkan kondisi saat difoto dan suasana hati objek. Pose wajah saya yang diambil secara candid (sembunyi-sembunyi) maupun dengan sengaja dan memaksa saya berakting, sangat menarik sebagai pembanding. Saya jadi tahu ada bagian-bagian dari wajah dan sifat saya yang muncul dan tidak enak dipandang ketika sedang kalut, marah, bete atau apalah namanya. Setidaknya saya tahu ada sisi lain dari ekspresi wajah saya yang bisa jadi dipahami secara berbeda oleh orang lain. Selengkapnya lihat foto berikut di sini.

Labels:

28 September 2006

The Road To Guantanamo

The Road to Guantanamo

Bagi orang awam, membaca judul di atas akan memunculkan pertanyaan di manakah Guantanamo? Dengan membuka peta, jawaban itu segera ditemukan. Guantanamo adalah sebuah kamp instalasi militer Amerika Serikat di Kuba. Walau Amerika adalah musuh utamanya, Pemerintah Kuba tak bisa berkutik dengan keberadaan instalasi militer itu karena terikat perjanjian sewa wilayah dengan Amerika puluhan tahun lalu. Eit, tulisan ini bukan hendak membeber soal hubungan Amerika Serikat dan Kuba. Saya justru hendak membedah tentang Guantanamo-Guantanamo di Indonesia. Kok?



Judul di atas adalah sebuah film terbaru karya sutradara Michael Winterbottom yang meraih penghargaan Silver Bear di Berlin Film Festival 2006. Film ini dibuat dengan pola doku-drama yaitu memadukan cuplikan dokumenter dan rekaan berdasar penuturan langsung tokoh-tokoh utamanya. Kisahnya tentang tiga pemuda muslim-Ruhal Ahmed, Asif Iqbal dan Shafiq Rasul-warga Inggris asal Pakistan yang terjebak di Afghanistas kala terjadi huru-hara menjelang jatuhnya rezim Taliban yang tengah digempur tentara AS karena dituduh melindungi Usamah bin Laden. Tiga pemuda yang oleh media Barat disebut “Tipton Three”, merujuk asal mereka di Inggris, ditangkap tentara Aliansi Utara yang lantas diserahkan ke pasukan Amerika. Di sinilah jalan hidup mereka berubah. Ketiganya dimasukkan penjara karena dicurigai anggota Al Qaeda oleh AS dan diterbangkan ke kamp X-Ray di Guantanamo dan kemudian dipindah ke kamp Delta, juga di Guantanamo. Kebetulan seorang teman di Serpong membeli versi DVD-nya dan saya ikut menontonnya tempo hari.

Hanya berbekal kecurigaan dan "kesalahan" karena berbicara bahasa Inggris ketiganya menjalani kehidupan penjara yang sungguh tak manusiawi. Ditendang, dipukul, ditelanjangi, dilarang berbicara dengan sesama tahanan, bahkan ketika menjalankan salat pun sambil diintimidasi. Semuanya digambarkan secara gamblang di film tersebut. Seperti sering dilansir media di tanah air tentang perlakuan penegak hukum yang bermain rekayasa, ditampakkan pula polah agen-agen intelejen militer, CIA, MI5 dan FBI yang berkali-kali melakukan intimidasi agar “mainan” nya mengaku sebagai anggota Al Qaeda.

”Look at him. If you move, he will shoot you,” kata seorang interagor kepada salah salah satu dari Tipton Three ketika interogasi di bawah todongan senjata yang terkokang yang dibawa prajurit penjaga. Padahal si tahanan sudah diborgol tangan dan kakinya. Saking seringnya interogasi seperti ini, ketiganya hapal dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan interogator. Bila interogasi buntu, sudah disiapkan “hukuman” tambahan yaitu ruang isolasi. Di ruang ini, tahanan ditempatkan sendirian dalam ruangan gelap total tanpa cahaya dengan kaki dan tangan terborgol yang terikat rantai ke lantai. Itupun dengan posisi jongkok dengan tangan di bawah pantat karena rantainya sangat pendek. Praktis tak ada posisi lain bisa “dinikmati” tahanan bila disiksa dalam kondisi ini. Digambarkan juga tahanan dalam ruang isolasi yang ditemani musik yang disetel sangat keras. Bila tak tahan, bisa dipastikan tahanan bakal stres atau depresi dan menyerah kepada si interogator. Ada juga tahanan yang selnya diacak-acak dan kitab suci Al Quran yang ada di ruang itu ditendang oleh sipir.

”They said they were going to destroy me but the fact I became stronger and stronger everyday,” kata Ashif, salah seorang Tipton Three.
Akhirnya setelah tiga tahun ditahan tanpa tuduhan resmi dan tak ada bukti sebagai anggota Al Qaeda, ketiganya dilepas dan dikembalikan ke Inggris pada pertengahan 2005 lalu.

Sikap sipir-sipir penjara seperti itu bukan trademark tentara AS saja yang lagi getol memburu Usamah dan kelompoknya. Sastrawan Pramoedya Ananta Toer juga menceritakan perilaku serdadu-serdadu TNI yang lebih bengis ketika dia dibuang ke pulau Buru karena dituduh sebagai PKI selama 14 tahun. Sama seperti Tipton Three, Pram juga tak pernah menerima tuduhan resmi terkait penangkapan dan penahanannya. Juga mantan ketua DPR RI, AM Fatwa, yang dalam biografinya mengaku mendapat perlakukan buruk dari aparat TNI yang menciduknya setelah peristiwa Tanjung Priuk meletus. AM Fatwa lebih “beruntung” karena disidangkan di pengadilan walaupun tuntutan yang diajukan jaksa disebutnya rekayasa. Belum lagi testimoni beberapa aktivis yang diculik anggota Tim Mawar Kopassus yang kala itu dipimpin Letjen Prabowo Subianto, di senja kala kekuasaan Soeharto. Semuanya menceritakan hal sama : perlakuan tidak manusiawi di tahanan oleh kaki tangan penguasa yang zalim. Bahkan rezim Soeharto pernah menciptakan kamp Guantanamo maya di republik ini. Para tahanannya adalah rakyat. Rezim Soeharto menciptakan atmosfer ketakutan dengan memberikan cap PKI, ET (eks tapol) di KTP, diskriminasi rasial bagi warga Tionghoa, cap Islam garis keras, dan mengobarkan perang di Timor Timur, Papua dan Aceh bertahun-tahun.

Sudahkah Guantanamo-Guantanamo di Republik ini hilang? Dengan menyesal saya menyebut bullshit. Tengok saja perlakukan tahanan di kantor-kantor polisi. Berapa kali kita mendengar polisi salah tangkap dan melepasnya kembali dalam kondisi babak belur? Terakhir kasus ini terjadi di Polres Bekasi. Saya melihat sendiri beberapa tahun lalu di kantor-kantor polisi di Jawa Tengah, ada tahanan-tahanan yang ‘di-bon” dan diinterogasi dengan pukulan, sengatan listrik, muka babak belur, jempol kaki diinjak kaki meja yang diduduki dan lain-lain. Barangkali kita masih bisa memaklumi kalau yang diperlakukan demikian adalah pelaku kriminal setarap pembunuh, pemerkosa, perampok dan lain-lain. Tetapi bila yang “di-bon” adalah orang yang salah tangkap, apa tanggung jawab polisi? Bagaimana dengan namanya yang sudah telanjur tercemar, tetangga yang mencemooh, luka fisik dan mental yang bakal melekat bertahun-tahun?

Sesungguhnya Guantanamo tak sekadar tempat yang dibatasi jeruji besi, kawat berduri dan penjaga-penjaga yang galak dan kasar. Guantanamo adalah sistem otoriter yang memonopoli kebenaran dan memaksakannya. Persis sikap kita bila tak bisa menenggang terhadap perbedaan dan bersikukuh bahwa pendapat dan sikap kita adalah yang paling benar. Karena kebenaran yang dimonopoli bukanlah kebenaran.

23 September 2006

Kantong Mataku Berat

Memasuki bulan Ramadan adalah mengingat haru. Haru karena mengingat kepedihan, kekecewaan dan ketidakberdayaan yang terlambat. Bulan Ramadan adalah bulan haru. Bulan ketika emosi dan nalar kita diaduk-aduk oleh nurani yang sekalian lama dikucilkan. Ego yang sudah telanjur arogan tiba-tiba saja harus tunduk pada panggilan hati. Mengingat semuanya adalah mengenang haru biru, mengenang kekalahan-kekalahan sekaligus mengharap kemenangan.

Aku selalu ingat, setahun terakhir ini hanya sedikit sekali menangis. Ya, kalau dihitung, jumlah jari tangan dan kaki pun lebih dari cukup. Bahkan jari dari sebelah telapak tangan pun masih bersisa. Aku cuma ingat ada dua kali. Sekali kala lebaran, sekali sesudahnya.

Yang pertama adalah ketika bertemu orang tua dan keluarga di Banjarnegara. Saat itu, Ramadan makin tipis dan Lebara melamba-lambai. Itu adalah pertemuan pertamaku dengan keluarga usai melewati titik nadir karena impian, cita-cita, harapan dan masa depan yang ada di depan mataku, lepas, atau dalam kata yang lebih perih, dibuang. Lebaran itulah, aku kembali membangun harapan. Aku temukan kembali semangat. Aku dapatkan lagi merahnya merah, hijaunya hijau dan putihnya putih. Semua itu muncul berkat peluk cium ibu, nasihat bapak, kritikan kakak, dan gurauan saudara-saudara. Aku menangis. Mataku berat. Basah.

Haru berikutnya adalah mengalahkan ego. Mengalahkan rasa malu dan keangkuhan. Mengalahkan kekerdilan sebagai lelaki. Aku lagi-lagi bersimpuh di depan lutut lelaki tua yang kuanggap orang tuaku sendiri. Aku menangis. Aku katakan kalau kedatanganku untuk meminta maaf atas janji dan amanah yang gagal kuemban. Atas kesalahan yang separuhnya kutimbulkan. Atas situasi yang sebagian kuciptakan. Aku terharu karena maaf itu diberikan.  Karena masih ada kebesaran hati yang ditawarkan. Aku betul-betul terharu.

Kini ketika Ramadan mendekat, semuanya membayang kembali. Aku ingin menikmati saat-saat mengharukan itu. Aku ingin merasakan lagi saat-saat jiwaku rapuh dan dipupuk oleh semangat, nasihat dan maaf dari orang-orang tuaku. Hari ini, saat Ramadan kembali mendekat, aku merasakan rasa itu lagi. Kantong mataku berat. Aku ingin mengenang saat-saat mengharukan itu. Aku ingin menangis.

20 September 2006

Ikhlas

Namanya Pak Rohman. Tubuhnya tinggi besar dan agak gemuk. Usianya sekitar 35 tahun. Masih muda dan segar. Wajahnya bersih, sikapnya bersahaja dan ramah kepada orang yang baru dikenal. Di tempat tinggalnya, ia disegani oleh warga. Pak Rohman adalah kepala sekolah sekaligus penanggung jawab ponpes Agrikultur Kadugede, Kecamatan Penanggaran, Lebak.
Rumah yang ditinggali bersama istri dan anak-anaknya terbilang sederhana. Tak ada perabotan mewah. Bahkan televisi pun rusak dan sudah lama tak pernah ditonton. Namun soal menghargai tamu, hotel berbintang lima manapun di Jakarta pasti kalah.
Ya, keluarga pak Rohman sangat menghargai tamu-tamunya. Walau cuma menginap semalam bersama dua rekan dari JIMS (jakarta international moslem society), tak ada wajah kecut, senyum sinis, muka masam ketika menyambut kami. Inilah hospitality yang benar-benar tulus dan ikhlas yang tidak dimiliki oleh para pegawai hotel berbintang yang sering kali senyum dan tingkah lakunya artifisial alias dibuat-buat.
Ketika datang sore itu, kita segera disuguhi segelas air putih. Lantas setelah berbincang sebentar dan menunaikan solat magrib, hidangan makan malam disajikan di atas tikar. Menunya sambal kecap, enceng gondok rebus, irisan mentimun dan ikan asin. Toh, kami tetap lahap karena hidangan itu sangat lezat di lidah. belum usai, kita disuguhi buah mangga yang masih setengah matang yang disandingkan dengan garam dan sambal cabe.
Paginya sekitar pukul 06.30, piring-piring berisi nasi goreng sudah menunggu. Kepada Pak Imam, kawan dari JIMS, saya berujar begini," Saya merasa tak enak Pak. Saya ngga ngapa-ngapain tapi disuruh makan terus. Dengan enteng dia menjawab," Memang begini kalau turun ke lapangan. Ini rezeki. Jangan ditolak."
Ikhlas. Itulah sikap yang ditunjukkan pak Rohman dan keluarganya. Tak ada harapan untuk mendapat imbalan atau ingin dipuji. Tulus. Apalagi menilik pengabdiannya beberapa tahun ke belakang, sungguh ketegaran pak Rohman patut ditiru.
"Dulu di depan situ belum ada apa-apa. Depan situ masih hutan jati. sekarang mah udah banyak warganya. Dulu sepi sekali,' tandanya bercerita tentang awal pengabdiannya enam tahun lalu. saat itu, kata dia, ponpes dan sekolahnya adalah yang pertama di daerahnya. maklumlah, tempatnya relatif susah dijangkau. Tak ada kendaraan umum kecuali ojek. itupun harus melewati jalanan yang naik turun dengan kondisi jalan boleh dikategorikan track off road. Bahkan beberapa kali kendaraan jip yang kami tumpangi mogok karena beratnya medan. memang jarak desa ini ke Malingping, sebuah kota kecamatan di pesisir pantai selatan Jawa tak terlalu jauh. Sekitar 15 km. dari jalan utama masih harus ditempuh jarak 4 km ke pedalaman. Jangan sangka jarak 4 km itu dekat. Walau secara geografis dekat, namun kondisi jalan yang "ya ampuuun" karena sangat terjal, berbatu, dan berliku, membuat perjalanan yang semestinya bisa ditempuh dalam 10 menit itu menjadi sekitar 45 menit!!!!
Hebatnya lagi, para santri, guru pengajar, tinggal di dekat pesantren. mereka lebih suka tinggal di sana karena keinginan untuk mengabdi, bukan sekadar mencari duit.